Kejadian waktu itu benar-benar membuat jantung saya berdebar kencang. Betapa tidak, kami yang sore itu sedang bersantai di ruang keluarga tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah guncangan yang cukup keras. "Gempa!" Kami langsung berlari keluar dan mencari tempat yang cukup luas. Gempa ini lebih keras dari beberapa gempa sebelumnya tahun ini.
Saat saya dan yang lain sudah berada di halaman rumah yang cukup luas, gempa itu masih terasa, bahkan lebih keras. Sulit rasanya mengokohkan posisi berdiri saat itu, saking kerasnya guncangan gempa. Saya, ayah saya dan seorang saudara berada di rumah waktu itu. Bak air yang terbuat dari beton yang telah kami sulap jadi kolam ikan terlihat menumpahkan airnya keluar hingga kira-kira 2 meter dari tempatnya.
Setelah gempa berhenti, yang terpikir oleh kami adalah, apakah gempa ini akan mendatangkan tsunami? Kami pun memutuskan untuk segera menuju ke tempat yang tinggi agar selamat dari kemungkinan bahaya tsunami. Satu motor matic dan satu skuter antik segera kami luncurkan ke suatu tempat yang dinamakan Bukit Putus, suatu tempat yang cukup tinggi di daerah kami.
Suasana di negeri kami, Painan, cukup panik waktu itu. Yang memiliki kendaraan segera memacu kendaraannya. Yang tak punya kendaraan, memilih lari ke lokasi terdekat yang menjadi jalur evakuasi tsunami. Ternyata setelah satu jam menunggu, tak ada tanda-tanda tsunami, dan tersiar berita dari mulut ke mulut bahwa pusat gempa berada di sekitar daerah Pariaman dan tak berpotensi tsunami. Kami meluncur kembali pulang ke rumah.
Jaringan komunikasi terputus. Padahal, anggota keluarga kami empat orang berada di Kota Padang (dua jam perjalanan dengan kendaraan dari kota kami) dan belum diketahui kabar beritanya. Ibu saya yang guru, sedang mengikuti penataran sertifikasi guru di Padang. Tiga orang adik saya kuliah. Tak ada satu pun yang diketahui kabar beritanya. Aliran listrik pun terputus sehingga kami tak bisa mengetahui kabar terbaru di TV mengenai gempa yang baru saja terjadi.
Besoknya kami mendengar berita bahwa keadaan di Kota Padang sangat parah. Banyak gedung yang rubuh. Bahkan ada bangunan yang terbakar akibat korslet. Hati kami semakin gelisah. Hp tak dapat dihubungi. Bahkan kami sempat membeli voucher perdana kartu selular yang dikabarkan masih memiliki sinyal. Namun, sinyalnya terlalu lemah.
Hati saya sedikit lega pada malam harinya, karena salah seorang adik saya tiba di rumah dengan selamat dengan membonceng motor temannya yang sama-sama kuliah di Padang. Atas kesepakatan bersama, saya memutuskan untuk berangkat bersama adik saya - yang baru datang dari Padang - untuk berangkat dengan motor besok paginya, demi mengetahui keberadaan tiga orang anggota keluarga yang masih berada di Padang.
Saya dapat bernapas lega setelah mengetahui seluruh anggota keluarga selamat. Ibu saya menginap di rumah family di Indarung, daerah di Kota Padang yang berposisi cukup tinggi dari permukaan laut. Adik saya yang kuliah di Fakultas Teknik Universitas Andalas berada di kampusnya. Fakultas Teknik terlihat rusak berat. Sebagian dindingnya terutama yang bagian atas rubuh jatuh ke tanah. Sedangkan adik saya yang di Fakultas Kedokteran berada di Rumah Sakit M. Djamil Padang ikut membantu korban gempa.
Gempa besar 7,6 SR yang melanda Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman dan sekitarnya pada 30 September 2009 menimbulkan kepedihan yang mendalam. Begitu banyak korban berjatuhan, bangunan yang rubuh, dan trauma bagi sebagian orang yang masih diberi kesempatan hidup. Simpati datang dari berbagai negeri di tanah air bahkan dari mancanegara.
Ya Tuhan, apakah musibah ini ujian bagi kami ataukah menjadi azab atas segala dosa yang telah kami perbuat di bumi-Mu ini? Ya Tuhan kami, ampunilah segala dosa kami dan beri kami ketabahan dalam menjalani ini semua.